Logis vs Rasional: Kebodohan Pragmatis yang Menghancurkan Masa Depan dalam Memilih Pendidikan dan Pekerjaan

Di era modern ini, memilih jalur pendidikan dan karir sering kali dipengaruhi oleh pendekatan pragmatis yang menekankan logika dan rasionalitas. Namun, apakah selalu bijak untuk sepenuhnya mengandalkan logika atau rasionalitas saat membuat keputusan yang dapat menentukan masa depan kita? Mari kita telusuri bagaimana kebodohan pragmatis ini bisa menjadi bumerang, merusak peluang dan harapan kita di masa depan.

Babak Pertama: Memahami Logika dan Rasionalitas

Logika: Pendekatan logis dalam membuat keputusan didasarkan pada fakta dan data yang konkret. Ini melibatkan proses deduktif dan induktif yang ketat untuk mencapai kesimpulan yang masuk akal. Misalnya, memilih jurusan kuliah berdasarkan prospek pekerjaan dan potensi gaji di masa depan adalah keputusan yang logis.

Rasionalitas: Rasionalitas mencakup lebih dari sekadar logika; ini melibatkan pengambilan keputusan yang mempertimbangkan tujuan jangka panjang, nilai-nilai pribadi, dan kepentingan individu. Misalnya, meskipun jurusan tertentu menjanjikan prospek karir yang baik, memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan passion seseorang adalah keputusan yang rasional.

Babak Kedua: Kebodohan Pragmatis dalam Pendidikan

Kasus: Memilih Jurusan Kuliah

  • Logis: Seseorang memilih jurusan Teknik Informatika karena data menunjukkan bahwa lulusan di bidang ini memiliki gaji yang tinggi dan prospek kerja yang bagus. Ini adalah keputusan yang didasarkan pada logika, mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi.
  • Rasional: Sebaliknya, memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat, seperti Seni atau Sastra, mungkin tidak selalu dianggap logis secara ekonomi, tetapi bisa menjadi keputusan yang lebih rasional jika itu sejalan dengan passion dan tujuan hidup jangka panjang.

Kebodohan Pragmatis: Memilih jurusan hanya berdasarkan prospek kerja dan gaji, tanpa mempertimbangkan minat dan passion, sering kali berujung pada ketidakpuasan dan kegagalan di kemudian hari. Banyak orang akhirnya merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak mereka nikmati, yang bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan kualitas hidup.

Babak Ketiga: Kebodohan Pragmatis dalam Karir

Kasus: Memilih Pekerjaan

  • Logis: Memilih pekerjaan di perusahaan besar dengan gaji tinggi dan stabilitas karir. Ini adalah pilihan yang logis berdasarkan keamanan finansial.
  • Rasional: Memilih pekerjaan di perusahaan startup yang menawarkan gaji lebih rendah tetapi memberikan peluang untuk belajar, berkembang, dan bekerja dalam lingkungan yang dinamis dan kreatif. Ini adalah keputusan yang rasional bagi seseorang yang mencari tantangan dan pertumbuhan pribadi.

Kebodohan Pragmatis: Mengutamakan stabilitas finansial tanpa mempertimbangkan kepuasan kerja dan perkembangan pribadi dapat menyebabkan stagnasi dan kurangnya motivasi. Pekerjaan yang tidak memberikan kepuasan batin cenderung membuat seseorang merasa terjebak dan kehilangan arah dalam karirnya.

Babak Final: Menghindari Kebodohan Pragmatis

Keseimbangan antara Logika dan Rasionalitas:

  • Evaluasi Diri: Sebelum membuat keputusan besar, evaluasi diri sendiri. Apa yang Anda inginkan dari hidup? Apa yang membuat Anda bahagia dan termotivasi?
  • Penelitian dan Data: Gunakan data dan penelitian untuk memahami prospek pekerjaan dan tren industri, tetapi jangan biarkan ini menjadi satu-satunya faktor penentu.
  • Nilai dan Tujuan: Pertimbangkan nilai-nilai pribadi dan tujuan jangka panjang Anda. Apakah pilihan ini akan membantu Anda mencapai impian dan tujuan hidup Anda?

Mengandalkan logika dan rasionalitas dalam membuat keputusan pendidikan dan karir adalah penting, tetapi harus diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang diri sendiri dan apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup. Kebodohan pragmatis yang hanya mengandalkan angka dan data dapat menghancurkan masa depan jika tidak diimbangi dengan pertimbangan yang lebih holistik dan manusiawi. Jadi, buatlah keputusan yang tidak hanya masuk akal di atas kertas tetapi juga memberikan kebahagiaan dan kepuasan dalam jangka panjang.

Verified by ExactMetrics