Snake Eyes “G.I Joes Origins”

Snake eyes ini adalah spinoff cerita 2 karakter G.I Joe, yaitu snake eyes dan storm shadow. di plot lama, mereka berdua adalah saudara angkat. dan akhirnya harus menjadi musuh karena storm shadow, sang anak difitnah membunuh ayahnya untuk mendapatkan pedang keluarga.

Di plot baru ini, sebenarnya menurutku bagus, hanya saja komposisi timeline cerita agak kurang proporsional, proporsi terlalu panjang di timeline cerita twisting keberpihakan snake eyes dibanding bagaimana sang anak memupuk dendam meletakkan seluruh hidupnya untuk menuntaskannya. Ada beberapa kritikus yang mengatakan plot ini terlalu mudah ditebak dan kurang berbobot. Kalau aku justru sebaliknya, kesalahan utamanya adalah panjang frame yang mengungkap latar belakang dendam seorang snake eyes kurang tajam, hingga kenapa dia menimbun seluruh nuraninya dengan dendam.

Biar lebih enak, mari kita kupas satu persatu kenapa aku tertarik untuk menulis film “aneh” ini.

Kekuatan alur cerita film ini sebenarnya ada di 2 hal, menangkap keputusan emosional yang membuat kenapa snake eyes menjadi seolah culas, dan alasan kenapa seorang arashikage berubah menjadi vigilante bernama storm shadow.

2 frame penting ini menurutku dikubur karena kurang kuat pengambilan sudut dan panjang frame, mereka berdua langsung disajikan matang dan kemebul, hingga tidak banyak yang bisa menangkap suasana hati saat snake eyes memilih dendam dibanding nurani, dan kebanyakan orang hanya melihat bahwa seorang tommy hanyalah anak manja yang merasa dilahirkan untuk menjadi pemimpin klan arashikage, yang memutuskan untuk berpindah sisi dari si baik menjadi si jahat hanya karena “permen” kepemimpinannya diambil dari tangannya. Padahal, menurutku 2 hal ini akan mempertajam dan memperindah alur cerita film, flashback trauma snake eyes sebenarnya diungkap sedikit di saat dia belajar dari blindmaster bagaimana cara “menyakiti diri sendiri” yang akan aku bahas di paragraf lain. namun penguatan trauma hanya ada dipertontonkan di titik dia melihat pembunuh ayahnya. akan lebih kuat jika itu ditambahkan perjuangan dia hidup di jalanan dan belajar menjadi petarung jalanan. meskipun beberapa gerak serang dan bertahan dari snake eyes sebenarnya tidak bisa disebut sebagai tehnik yang ditemukan di jalan pertarungan. Sementara dari sisi storm shadow, kepercayaan diri yang tebal bahwa dia adalah seorang arashikage, kurang diungkap, akan lebih emosional jika ditambahkan proses kerja keras dari kecil dan beban yang dipikul menjadi seorang berdarah arashikage. dan betapa dia merasa sia-sia saat sang nenek mengatakan bahwa tidak akan ada lagi arashikage yang menjadi pemimpin klan karena kesalahan mendasar yang dilakukan storm shadow di pertarungan terakhir dengan si penghianat kenta takamura. Perasaan sia-sia itu hilang dan hanya tinggal menyisakan kesan spoiled bratt.

Samara Weaving plays Scarlett and Henry Golding plays Snake Eyes in Snake Eyes: G.I. Joe Origins from Paramount Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer Pictures and Skydance.

Dari sisi filosofi cerita, memang terasa banyak yang lubang dan tidak bermakna, namun sebenarnya, itu terjadi karena kurang kuatnya diksi dan dramatisasi kejadian. Filosofi arashikage yang dideskripsikan sebagai “abandon ego, strike with honor, selflesness, and truthfullness will lead to harmony” sebenarnya bisa mengubah pandangan penonton tentang citra klan pembunuh bayaran yang disebut ninja, khususnya klaim bahwa klan arashikage adalah pelindung dan penyeimbang jepang. yang sekaligus nanti akan bisa memperkuat alasan kenapa sen arashikage menyatakan bahwa tidak akan ada lagi arashikage yang memimpin klan arashikage. Kenapa ? ini digambarkan dengan tepat namun kurang emosional, saat snake eyes menuntaskan ujian itu dengan meminta pertukaran mangkok, yang sebenarnya menggambarkan bahwa ego, sikap mementingkan kejayaan pribadi, adalah hal yang harus ditinggalkan, dan “strike with honor” diterjemahkan dengan bahwa sikap hormat bisa jadi serangan yang lebih mematikan daripada pukulan dan tendangan. Seperti ada pemeo bahwa “orang jawa itu akan mati kalau dipangku, seperti aksaranya” tinggikan kehormatan lawan, maka kamu akan memenangkan pertempuran. Bagaimana membuat harimau bisa memakan tuannya. Di sisi ini seharusnya bisa memperkuat karakter klan arashikage bahwa menjadi pelindung tidak harus menjadi penguasa, mengorbankan segala-galanya termasuk nyawa dan harga diri untuk kepentingan bangsa, yang sekali lagi, menurutku gagal dieksekusi hingga terasa datar saja

Koreografi pertarungan juga bisa diperkuat karena sepanjang film hanya memperkuat stand position pertarungan yang terasa dramatis namun tidak bergaya pembunuh yang menjaga kerahasiannya. Patahan koreografi pertarungan terasa nanggung dan tidak sama di setiap scene. cinematografi kamera tidak aku bahas karena aku kurang nemahami itu. Untuk koreografi kenapa nanggung ? karena jika ingin menampilkan kesadisan pertarungan ala ninja asassin sudah terasa failed karena kecepatan frame kurang, jika ingi ditampilkan seperti sequel G.I Joe, terasa kurang tajam tone dan anglenya.

Frame 3 anaconda juga sebenarnya bisa dituturkan dengan lebih baik jika saja mengambil frame yang sama dengan saat black panther meminum ramuan yang menguatkan tubunya. 3 anaconda ini sebenarnya bisa diambil dari sudut pemahaman bahwa manusia memiliki 3 unsur, yaitu roh, jiwa, dan tubuh yang harus diseimbangkan, jika salah satu lebih menguasai yang lain, maka itu akan menghancurkan pemiliknya. Namun sekali lagi perjalanan spiritual dan emosional menurutku digambarkan dengan sangat mentah dan kurang mendalam.

Sisanya ? nikmati saja snake eyes sebagai hiburan ringan yang datar namun unik.