BRAIN, BONE, BUSINESS, ETHIC, AND AN ASSHOLE BETWEEN IT

Sebenarnya tulisan ini tidak layak aku tuliskan, tapi karena sudah sesak, ya sudahlah, aku tulis saja.

Pengalaman profesionalku dimulai dari satu toko kecil yang ada di sudut kota malang, waktu itu aku bekerja sebagai admin di satu toko komputer.Beragam profesi pernah aku alami, mulai teknisi komputer, tukang install server, bikin desain jaringan, mengelola produk ratusan sebagai product manager, di 3 fase terakhir aku menjadi pengelola entitas bisnis untuk investor dengan rentang industri yang sebenarnya cukup tidak masuk akal, dari penerbitan hingga studio game.

Alam kreatifitas, aku mulai dengan hobi menggambar, disambung dengan memahami alur produksi di dunia digital. Dengan rentang level pekerjaan dari staff, manager, direktur, CEO, sampai Founder. Aku pernah mengalami diinjak kepalaku sebagai pijakan orang lain agar mereka bisa mencapai puncak karirnya, pernah juga ide panjang dan rumit tidak dipakai oleh investor karena dianggap tidak layak, namun setelah aku tidak berada disitu, ide panjang tadi dipakai dan diklaim sebagai ide original mereka.Pernah juga difitnah dengan cerita yang tidak benar dan dijelaskan dengan persepsi berbeda. Sehingga memutuskan partnership dengan salah satu rekan bisnis.

Ada yang dengan cara naif mencoba menceritakan hal buruk, kemudian dengan pongah mengatakan bisa menggantikan posisiku dengan lebih baik, hanya karena pendidikannya lebih baik. Apakah demikian? hanya waktu dan sikap bawahan yang akan membuktikannya.

Yang paling buruk, adalah orang yang telah diberi kesempatan kedua, ternyata lebih memilih berbohong, serta membiarkan keserakahan merusak kepercayaan dan yang lebih parah, mereka yang merasa lebih baik, hanya bisa memberi janji manis tapi sama busuknya.Ya sudahlah, biarkan karma yang memutuskan. Namun satu hal yang aku pelajari, bahwa banyak orang yang tidak bisa menghargai “bantuan” dan menganggap bahwa bantuan pikiran, ide, dan masukan cukup dihargai dengan terima kasih, serta menilai pekerjaan dari sisi tehnis saja.

Jika mereka menganggap bahwa itu kebenaran, so be it ….

For me, Kecerdasan, Nurani, dan Ketulusan menghargai itu jauh lebih penting dari sekedar proyek besar

Farewell yesterday, welcome tomorrow,