Mobil Elektrik, primadona baru di dunia otomotif

Harus diakui, perkembangan kendaraan elektrik baik motor maupun mobil sepanjang tahun 2022 tumbuh sangat pesat, Diolah dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dibanding tahun sebelumnya, pertumbuhan pasar kendaraan listrik Januari-Desember 2022 naik 5 kali lipat atau 548 persen menjadi 20.396 unit. Lonjakan minat terhadap kendaraan jenis ini tentu saja bukan hanya hype yang timbul karena teknologi baru yang dibawanya, tetapi juga karena biaya operasional yang dijanjikan jauh lebih murah dibanding mobil yang menggunakan bahan bakar fosil.

Kendaraan elektrik yang beredar di pasar saat ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu kendaran hibrida, yang menggabungkan mesin berbahan bakar fosil dengan mesin elektrik. Dan monil eletrik murni.
Nampaknya masa depan dunia otomotif bakal bergeser, untuk kendaraan operasional harian mungkin akan semakin banyak, namun benarkah mobil listrik lebih murah dibanding mobil bensin ?

dikutip dari kompas.com, berikut beberapa perbandingan mendasar dari kedua tipe mobil ini :

  • Selisih harga mobil

Mobil listrik lebih mahal 47 persen ketimbang mobil konvensional. Harga rata-rata untuk mobil BBM adalah Rp 419,9 juta, sedangkan mobil listrik mencapai Rp 617,6 juta. Selisihnya adalah sebesar Rp 197 juta.

Dari angka selisih tersebut,  jika digunakan untuk membeli BBM Pertalite Pertamina dengan harga Rp 10.000 per liter, volume BBM yang dibeli adalah 19.761 liter.

Volume sebanyak itu dapat digunakan untuk berkendara sejauh 303.768 km atau 15 tahun 2 bulan. Ini dengan asumsi setiap tahun melakukan perjalanan 20.000 km dan efisiensi mesin rata-rata 15,37 km per 1 liter.

  • Jangkauan

Tantangan lain yang harus dihadapi calon pembeli kendaraan listrik adalah jangkauan mobil yang relatif lebih rendah ketika penyimpanan energinya dalam kondisi penuh (tangki BBM penuh dan baterai penuh).

Secara rata-rata, daya jangkau mobil BBM ketika tangki penuh adalah 722,9 km. Sedangkan mobil listrik hanya sekitar setengahnya (45 persen) 328,2 km.

Jika digunakan di dalam kota saja, mungkin jangkauan mobil listrik tidak akan jadi masalah. Namun, untuk perjalanan luar kota atau jarak jauh, yang digarisbawahi peran krusial stasiun pengisian kendaraan listrik umum.

  • Biaya operasional

Biaya operasional mobil listrik yang terdiri dari perawatan, energi, serta pajak, secara rata-rata membutuhkan Rp 23,3 juta selama periode penggunaan lima tahun atau 100.000 kilometer. Ini lebih rendah sekitar 76 persen ketimbang biaya operasional mobil BBM konvensional yang mencapai Rp 97,3 juta selama lima tahun.

  • Kesimpulan

Artinya, penggunaan mobil listrik dapat menghemat ongkos energi sebesar Rp 74 juta selama lima tahun.

Namun, keunggulan itu akan terhapus dengan biaya investasi awal mobil listrik rata-rata yang masih Rp 198 juta lebih mahal.

Biaya kepemilikan total atau total cost of ownership (TCO) mobil listrik selama 5 tahun adalah Rp 640,9 juta. Sementara TCO mobil BBM 517,3 juta. Artinya, TCO mobil listrik masih 24 persen lebih mahal ketimbang mobil BBM.