Melihat Tuhan dengan percaya dan dengan mata

Pernahkan kamu mendengar kalimat :

  • Kamu harus rajin berdoa dan beribadah agar dekat dengan Tuhan
  • Kamu harus berbuat baik agar masuk surga
  • Kamu harus pergi ke tempat ibadah mengikuti ritual keagamaan agar hatimu tenang

Aku tidak mengatakan itu salah, tapi pernahkan terpikir bahwa adorasi, kontemplasi, komunikasi, dan kedekatan kita dengan Tuhan bisa dilihat dan dialami dalam beragam dimensi.

Aku, bukan pendoa, bukan orang pantas dekat dengan Tuhan, karena masih banyak dosa yang masih lekat di tubuh. Kekagumanku kepada Tuhan aku temukan saat melihat dan belajar banyak hal dalam hidup. dalam pelajaran tentang alam semesta, pada rumitnya sequence dan iterasi yang ada dalam bahasa pemrograman.

Kecintaanku pada Tuhan aku temukan saat lensa kamera merekam keindahan semesta, saat mengurai CSS dan menyusunnya kembali dalam bootstrap. Bahkan aku temukan saat kejadian acak muncul dalam hidupku

Suatu waktu, temanku bercerita tentang kejadian magis yang dialaminya, bagaimana satu benda bisa bergerak sendiri, yang menurutnya digerakkan oleh makhluk halus disekitarnya, dia begitu kagum dan takut. Aku hanya menjawab, pada makhluk yang hanya bisa menggerakkan benda sekecil itu kamu kagum, tapi kamu tidak kagum pada Tuhan yang mampu menggerakkan alam semesta.

Keheningan dan kedekatan dengan Tuhan aku temukan saat sendiri dan terdiam mendengarkan apapun yang masuk ke inderaku. Ada banyak warna yang belum aku kenal ternyata masuk dalam color mixing yang dilakukan olehNYA.

Once, saat ada teman yang datang menasehati untuk rajin berdoa disaat keluargaku mengalami badai, dia bahkan mengajak aku untuk ikut dalam ibadat gerejanya agar didoakan oleh pendetanya yang menurut dia, doanya pasti didengar Tuhan dan keajaiban pasti terjadi.

Aku hanya menjawab, jika doa seorang ayah, dan seorang ibu demi kesembuhan dan kebaikan anaknya tidak didengar Tuhan, maka tidak ada doa lain yang akan didengar, jika kamu bertanya apakah aku meyakini mujizat Tuhan ? aku myakininya dalam bentuk bahwa setiap kejadian dalam hidup kita adalah mujizat luar biasa, bagaimana kami sekeluarga menjalani setapak demi setapak kebaikanNya yang luar biasa. Dan ijinkan aku mensyukuri mujizat setiap hari itu.

Badai mistis sudah pernah aku alami dalam hidup, salah memahami jalan yang disiapkan untuk aku pernah aku lakukan. Namun dengan luarbiasa, Tuhan selalu bisa “memaksa” aku untuk masuk ke dalam chapter baru yang tadinya aku begitu takut untuk menjalani. Namun ada satu kalimat yang Tuhan tunjukkan dalam teladan, tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi .

Ada teman yang pernah mengajak diskusi, seberapa besarkah Tuhan, dan bagaimana Dia bekerja ? aku hanya bisa menjawab, sebesar kemampuanmu. Karena seberapa pintar, seberapa kaya, seberapa berkuasanya kita, tidak akan pernah cukup untuk bisa melihat kebesaranNya. Jalan Tuhan itu ibarat pencabangan dalam algoritma pemrograman yang jumlahnya tak terhingga. jika otakmu mampu memikirkan 100 kemungkinan, sebesar itulah kamu melihat Tuhan. Diajak berbicara tentang 1000 kemungkinan, kamu tidak akan memahaminya.

Jadi stop mengatakan bahwa untuk dekat dengan Dia itu hanya bisa diraih dengan caramu. Karena kita memasang “gambar” Tuhan dalam pigura pemikiran dan pemahaman kita masing-masing, mari saling mengagumi “gambar” dalam pigura kita dan teman kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *