Masih perlukan Penerbit buku di dunia digital ?

Ditengah Revolusi Teknologi yang dipaksakan oleh alam, sebenarnya membuka peluang baru bagi mereka yang mau belajar dan mengasah kemampuan, karena teknologi memangkas semua jalur distribusi barang, jasa, dan informasi.

Setelah meninggalkan dunia penerbitan buku karena melihat kejenuhan disitu dan betapa lingkaran industri buku lebih menguntungkan “makelar” ilmu, yaitu penerbit dan retailer.

Meskipun jalur distribusi ilmu terpangkas dengan adanya youtube, namun media tulis bagiku masih memiliki daya tarik dan sensasi tersendiri. Kali ini aku akan membahas revolusi distribusi buku digital.

Jika sebelumnya untuk menulis buku, kita harus mengajukan proposal naskah, kemudian penerbit akan menilai apakah naskah mempunyai cukup daya pikat, baru kemudian dicetak dan didistribusikan. dari 100% harga jual buku, penulis hanya mendapatkan kue sebesar 10%, toko buku mendapat 40%-58% hari harga jual, sisanya diperoleh penerbit dengan effort yang sebenarnya lumayan gede, mulai melakukan proses penyuntingan, tata letak, desain, sampai mempertaruhkan modal untuk mencetak buku yang belum tentu laku.

Sekitar tahun 2015, aku mencoba register akun publisher di google playbook. saat itu, eforia ebook belum besar. namun, disaat pandemi seperti ini, saat toko buku mulai sepi,saat distribusi buku mulai susah, saat metode belajar anak berubah dari buku ke audio visual. diperlukan revolusi dalam pola pembuatan media ajar.

Menggabungkan media tulis dan media audio visual hanya bisa dilakukan di e-book. namun platform ini juga memerlukan sedikit keahlian untuk membuatnya. Belum lagi penguasaan teknologi di kalangan penulis yang tidak bertema teknologi bisa jadi juga merupakan hambatan yang cukup signifikan.

Kali ini, aku akan membahas, masih perlukan penerbit dan toko buku sebagai media distribusi ? aku jawab, TIDAK PERLU, yang masih diperlukan ada pemerintah sebagai badan regulasi, dan proses editing dan layout, jika tidak bisa dilakukan sendiri, bisa dilakukan oleh editor, layouter, dan desainer freelance.

Pada bagian lain, aku akan membagikan, bagaimana penulis bisa melakukan layout mandiri, dan bagaimana memesan desain cover yang murah dan cepat di beberapa marketplace yang ada.

Di dunia penerbitan digital, profesi Editor, Layouter, Desainer, Penulis, akan menjadi profesi merdeka, seperti yang telah dilakukan oleh programmer, dan mereka yang berkecimpung di dunia digital.

Keuntungan self publishing :

  • Bebas berekspresi dan menulis dalam gaya, bidang ilmu, genre, bahkan bentuk media apapun tanpa aturan dari pihak penerbit
  • jika dipublikasi di google playbook, kamu akan menikmati 52% penjualan dan berapa harga jualnya, kamu yang tentukan. bahkan google tidak ikut campur, kamu mau jual ebookmu di harga berapa.
  • Kamu bisa promosikan dimanapun, kapanpun dan bagaimana kamu mempromosikannya.
  • Jika dulu untuk mempromosikan buku, kita bergantung pada media mainstream, pada penerbit, pada budget untuk event dan travelling. sekarang, kamu bisa bikin launching sendiri, promosi sendiri, undangan dan lain sebagainya melalui sosial media, dan platform streaming yang ada. semua bisa dilakukan dan ditangani dengan biaya jauh lebih murah, dan bebas.

Kelemahan self publishing :

  • 100% resiko, kamu yang tanggung
  • Proses seleksi tema, diksi, dan lain sebagainya, harus kamu pelajari sendiri.

Apakah modalnya gede ? aku jawab realtif, yang 100% mutlak adalah koneksi internet yang bisa diandalkan. untuk perangkat lunak, kamu bisa pakai tool gratis atau yang berlisensi opensource. beberapa tool yang harus kamu punya :

  1. Pengolah kata dan layout : Libre Office atau Microsoft Office
  2. Desain cover : GIMP atau Adobe Photoshop

Mau pilih yang mana ? tergantung kemampuan financial, jika mau berusaha dengan modal minimal, pakai OSS (OpenSource Software) saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *